Perjanjian Renville (Januari 1948)

 Perjanjian Renville (Januari 1948)

Setelah Agresi Militer Belanda I, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun tangan dengan membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk menjadi mediator dalam menyelesaikan konflik antara Indonesia dengan Belanda. Perjanjian Renville disepakati di atas kapal USS Renville pada 8 Desember 1947.

Perjanjian Renville dihadiri oleh beberapa pihak, diantaranya:

·   Delegasi Komisi Tiga Negara yang diwakili Dr. Frank Graham (Ketua), Paul van Zeeland (anggota), dan Richard Kirby (anggota).

·     Delegasi Indonesia diwakili oleh Perdana Menteri Amir Syarifuddin (ketua), Ali Sastroamijoyo (anggota), Haji Agus Salim (anggota), dr. J. Leimena (anggota), dr. Coa Tiek Ien (anggota), dan Nasrun (anggota).

·     Delegasi Belanda diwakili oleh R. Abdulkadir Widjojoatmodjo (ketua), Mr. H.A.L. Vredenburg (anggota), Dr. P.J. Koets (anggota), dan Mr. dr. Christian Robert Steven Soumokil (anggota).

Perjanjian Renville menghasilkan keputusan, yaitu:

  • Pihak Indonesia menyetujui dibentuknya negara Indonesia Serikat pada masa peralihan sampai pengakuan kedaulatan.
  • Belanda bebas membentuk negara-negara federal di daerah-daerah yang didudukinya dengan melalui jajak pendapat terlebih dahulu.
  • Republik Indonesia hanya diakui secara de facto atas wilayah-wilayah yang dikuasai oleh TNI saat itu.
  • TNI harus mundur dari daerah-daerah yang telah diduduki Belanda dalam Agresi Militer I atau daerah-daerah dibelakang garis van Mook dan masuk ke wilayah Indonesia.
  • Gencatan senjata antara Republik Indonesia dan Belanda.
Amir Syarifuddin
Sumber: Wikipedia

Abdulkadir Widjojoatmodjo
Sumber: EWikipedia

Dampak Perjanjian Renville

Perjanjian Renville menimbulkan dampak dan reaksi keras baik dari rakyat Indonesia, politikus maupun TNI. Beberapa dampak perjanjian Renville diantaranya:

  • Indonesia kehilangan banyak wilayah strategis akibat kewajiban TNI untuk mundur ke wilayah de facto.
  • Perjanjian ini sangat merugikan Indonesia secara militer, namun diplomatiknya dipandang sebagai kemenangan karena menunjukkan keabsahan kedaulatan Indonesia di hadapan dunia internasional.

Pemerintah dianggap gagal dalam berdiplomasi. Sebagai konsekuensi dari Perjanjian Renville, wilayah Indonesia menjadi semakin sempit. Pasukan Siliwangi pun harus melakukan Long March untuk berpindah dari Jawa Barat ke Yogyakarta pada 17 Januari 1948. Rakyat, pemerintah, dan TNI Bersatu dan aktif melakukan serangan gerilya ke wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda. Hal ini pun dimanfaatkan Belanda dengan melancarkan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 dengan mengepung kota Yogyakarta. Aksi ini dilakukan Belanda dengan berdalih bahwa Indonesia sering melanggar gencata senjata sehingga menyebabkan Perjanjian Renville gagal.

PERUNDINGAN LINGGAJATI

PERUNDINGAN LINGGAJATI

Perundingan ini berlangsung di Linggajati, Kuningan, pada 10 November 1946 dan ditandatangani pada 25 Maret 1947. Delegasi Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir, Mohammad Roem, Mr. Susanto Tirtoprojo, dan dr. A.K. Gani. Sementara Belanda diwakili oleh Willem Schermerhorn, F. de Boer, H.J. van Mook, dan Max van Poll. Perundingan ini di mediasi oleh Lord Killearn dari Inggris. Perundingan Linggajati menghasilkan beberapa kesepakatan, yaitu:

1.  Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia yang terdiri atas Jawa, Madura, dan Sumatra.

2.  Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS).

3.     RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda yang diketuai oleh Ratu Belanda.

Secara positif perjanjian ini memberikan pengakuan de facto terhadap Indonesia. Namun Belanda terus mencoba mempersempit wilayah kekuasaan Indonesia yang memicu ketegangan lebih lanjut. Dampak negatifnya, pengakuan de facto ini tidak sesuai dengan luas wilayah Hindia-Belanda, yang seharusnya meliputi dari Sabang sampai Merauke. Perjanjian ini menimbulkan kekecewaan dari Sebagian rakyat terhadap cabinet Syahrir III. Beberapa partai menganggap perjanjian ini sebagai bukti lemahnya pemerintahan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya.

Perjanjian Linggajati berakhir setelah pada 15 Juli 1947, H.J. van Mook menyampaikan pidato di radio bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Perjanjian Linggajati. Selanjutnya, Belanda menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Indonesia. Serangan ini dikenal dengan Agresi Militer  Belanda I yang dimulai pada 21 Juli 1947.

 

H.J. van Mook
Sumber: Wikipedia


Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

1. Kedatangan Sekutu ke Indonesia

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, kedatangan Sekutu ke Indonesia menjadi salah satu momen krusial dalam mempertahankan kemerdekaan. Sekutu yang dipimpin oleh Inggris datang dengan tugas utama untuk melucuti tentara Jepang yang telah menyerah dan memulangkan tawanan perang.

Namun, di balik kedatangan Sekutu, terdapat agenda tersembunyi dari Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Inggris datang melalui South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Lord Louis Mountbatten, dengan membawa pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang terdiri dari orang-orang Belanda. Pasukan NICA bertujuan untuk mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia.

Pasukan sekutu dibawah komando South East Asia Command membentuk komando pasukan khusus yang diberi nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dibawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philips Christison. Tugas AFNEI awalnya untuk menggempur pasukan Jepang yang ada di Indonesia. Namun, sebelum operasi militer dilancarkan, Jepang sudah menyerah. Oleh karena itu, tugas AFNEI dialihkan dari tugas militer ke tugas administrative, yaitu sebagai berikut:

1)     Menerima penyerahan Jepang

2)     Membebaskan para tawanan perang Jepang yang berasal dari Eropa.

3)     Melucuti tentara Jepang dan mengumpulkan mereka untuk dipulangkan.

4)     Menegakkan serta memelihara kondisi damai untuk diserahkan kepada pemerintahan sipil.

5) Mencari informasi tentang para penjahat perang Jepang untuk selanjutnya diserahkan ke pengadilan sekutu.

Pada tanggal 8 September 1945, Lord Louis Mountbatten mengutus tentara AFNEI dibawah pimpinan Mayor Greenhalgh ke Indonesia. Ia dan Pasukannya mendarat dengan menggunakan parasut di Lapangan Terbang Kemayoran pada tanggal 14 September 1945. Tugas utama Mayor Greenhalgh adalah menyiapkan pendaratan pasukan Inggris dan secepat mungkin menetapkan kedudukan AFNEI di Jakarta.

Pada 29 September 1945, rombongan pertama tentara AFNEI yang diangkut dengan kapal HMS Cumberland mendarat di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah itu menyusul pendaratan di kota-kota lainnya. Awalnya kedatangan AFNEI disambut netral oleh rakyat dan pemimpin Indonesia. Hal ini, karena dalam wawancara pers di Australia pada 29 September 1945, Letnan Jenderal sir Philips Christison mengatakan tugas AFNEI hanyalah untuk membebaskan tawanan perang dan interniran. Selain itu, melucuti tentara Jepang, AFNEI tidak akan mencampuri urusan politik di Indonesia.

Sir Philips Christison
Sumber: Kompas.com


2. Kembalinya Belanda ke Indonesia

Belanda kembali ke Indonesia dengan cara mengirimkan pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dengan membonceng kepada pasukan sekutu yang akan dikirimkan ke Indonesia. Tujuan Belanda ingin kembali menguasai Indonesia diantaranya:

Belanda ingin mengembalikan kekuasaannya atas Indonesia untuk:

  1. Mengembalikan Status Kolonial: Belanda berusaha mengembalikan Indonesia sebagai wilayah jajahannya. Mereka tidak mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia dan tetap menganggap Indonesia sebagai bagian dari Hindia Belanda.
  2. Mengeksploitasi Sumber Daya: Tujuan utama lainnya adalah mempertahankan kontrol atas sumber daya alam Indonesia yang sangat berharga, yang akan membantu menghidupkan kembali ekonomi Belanda yang hancur akibat perang.
  3. Menegakkan Hukum Kolonial: Belanda berupaya menerapkan kembali sistem pemerintahan kolonialnya, dengan menggunakan NICA sebagai alat untuk mengembalikan administrasi kolonial.

Pernyataan Sir Philips Christison dianggap sebagai pengakuan secara de facto terhadap Republik Indonesia. Namun, NICA justru mengambil tindakan yang berlawanan dengan pernyataan Christison. NICA mempersenjatai kembali bekas anggota Koninklijk Nederlands Indies Leger (KNIL) yang baru bebas dari tahanan perang. Di berbagai daerah, NICA dan KMIL yang didukung sekutu melancarkan provokasi dan terror kepada para pemimpin nasional . Semuanya bertujuan memuluskan rencana Belanda menduduki kembali Indonesia. Upaya Belanda untuk kembali ke Indonesia memicu berbagai pertempuran di berbagai daerah, seperti Pertempuran Surabaya, Bandung Lautan Api, dan berbagai agresi militer yang dilakukan Belanda untuk merebut kembali kekuasaan di Indonesia. Selain perjuangan dengan menggunakan senjata, Indonesia juga berusaha memperoleh pengakuan kedaulatan melalui jalur diplomasi.

 

BANDUNG LAUTAN API

 BANDUNG LAUTAN API

1. Latar Belakang

Pertempuran Bandung Lautan Api terjadi pada 23 Maret 1946 dan merupakan salah satu pertempuran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Bandung menjadi salah satu kota yang diperebutkan oleh tentara Republik Indonesia dan pasukan Sekutu, yang datang untuk melucuti senjata tentara Jepang. Namun, kedatangan pasukan Belanda yang ingin merebut kembali kekuasaan di Indonesia menyebabkan ketegangan yang semakin memuncak.

Di Bandung, pasukan Sekutu yang sebagian besar terdiri dari tentara Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) menuntut agar pihak Indonesia segera meninggalkan Bandung bagian selatan. Ultimatum ini dikeluarkan karena mereka ingin menjadikan Bandung sebagai pusat kekuatan militer mereka di Jawa Barat. Namun, pejuang Indonesia yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar-laskar rakyat menolak ultimatum tersebut, karena berarti menyerahkan Bandung kepada pasukan Sekutu dan Belanda.

2. Jalannya Pertempuran

Pasukan Inggris tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Pada saat yang bersamaan, TKR dan rakyat Bandung sedang melaksanakan pemindahan kekuasaan seta merebut senjata dari tangan Jepang. Selain membawa NICA, Inggris menuntut agar semua senjata yang direbut dari tangan Jepang dan beredar luas di tengah penduduk, kecuali TKR dan polisi diserahkan kepada mereka. Rakyat Indonesia diberi waktu untuk menyerahkan senjata-senjata tersebut paling lambat tanggal 21 November 1945. Rakyat Indonesia di Bandung tidak mengindahkan ultimatum tersebut sehingga terjadilah pertempuran. Tiga hari kemudian, sekutu menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung bagian utara segera dikosongkan.

Pada tanggal 23 Maret 1946, sekutu Kembali mengeluarkan ultimatum, kali ini agar TRI mengosongkan seluruh kota Bandung. Pertempuran dimulai setelah pasukan Indonesia memutuskan untuk melaksanakan strategi bumi hangus di Bandung bagian selatan. Pada malam 23 Maret 1946, sesuai instruksi pemerintah pusat dan Komandan Divisi Siliwangi, Kolonel Abdul Haris Nasution, penduduk Bandung diinstruksikan untuk mengungsi, sementara para pejuang membakar gedung-gedung penting dan fasilitas militer agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Sepanjang malam, api berkobar di seluruh kota. Gedung-gedung pemerintahan, fasilitas vital, dan rumah-rumah penduduk dibakar oleh para pejuang. Akibatnya, sebagian besar Bandung bagian selatan menjadi lautan api yang bisa terlihat dari kejauhan. Pasukan TKR terus melakukan perlawanan meskipun terdesak oleh kekuatan militer Sekutu yang lebih besar.

Kolonel A.H. Nasution
Sumber: Jurnalposmedia


3. Akhir Pertempuran

Meskipun aksi bumi hangus di Bandung selatan berhasil membuat Sekutu tidak bisa menggunakan fasilitas yang ada, pada akhirnya pasukan Indonesia harus mundur ke wilayah pegunungan di luar Bandung untuk melanjutkan perlawanan. Sekutu berhasil menduduki Bandung, namun pertempuran tidak berakhir begitu saja, karena pejuang Indonesia terus melakukan serangan-serangan gerilya dari luar kota.

Bandung Selatan benar-benar hancur dan terbakar. Ribuan warga sipil harus mengungsi, dan pertempuran tersebut meninggalkan dampak yang besar pada kondisi sosial dan ekonomi kota Bandung.

PERTEMPURAN MEDAN AREA

PERTEMPURAN MEDAN AREA

1. Latar Belakang

Pertempuran Medan Area terjadi sebagai bagian dari rangkaian perlawanan rakyat Indonesia terhadap upaya kembalinya Belanda pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah pada Sekutu di akhir Perang Dunia II, pasukan Belanda yang tergabung dalam tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) datang kembali untuk menguasai Indonesia. Kedatangan NICA memicu ketegangan dengan rakyat Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya.

Di Medan, Sumatera Utara, situasi memanas ketika pada 9 Oktober 1945, tentara Sekutu (Inggris) yang dipimpin oleh Brigadir T.E.D Kelly mendarat untuk melucuti tentara Jepang. Namun, mereka membantu Belanda dalam upaya merebut kembali wilayah tersebut. Konflik semakin intens ketika terjadi insiden di mana seorang pemuda Indonesia ditembak oleh seorang serdadu Belanda di Hotel Medan, yang kemudian memicu perlawanan bersenjata dari rakyat Medan dan pejuang Indonesia.

2. Jalannya Pertempuran

Pertempuran dimulai pada bulan Oktober 1945 ketika rakyat Medan, yang tergabung dalam berbagai organisasi perjuangan seperti Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan Laskar Rakyat, mulai melakukan perlawanan terhadap pasukan Sekutu dan NICA.

Pada tanggal 1 Desember 1945 sekutu memasang papan bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di pinggiran kota medan untuk menghadang gerak laju para pemuda. Oleh karena tulisan inilah wilayah yang menjadi markas sekutu di kota Medan dikenal sebagai Medan Area. Pada tanggal 13 Desember 1945, terjadi peristiwa penting di mana Sekutu mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Medan untuk meninggalkan wilayah kota dalam radius 5 km. Ultimatum ini memicu perlawanan yang lebih besar, dan berbagai bentrokan bersenjata terjadi antara pejuang Indonesia melawan tentara Sekutu dan Belanda.

Pasukan pejuang Indonesia melakukan serangan gerilya terhadap posisi-posisi Belanda di sekitar Medan. Namun, kekuatan persenjataan yang dimiliki Sekutu membuat mereka dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama. Pertempuran ini berlanjut hingga 1946, dengan wilayah-wilayah di sekitar Medan menjadi medan tempur antara pejuang Indonesia dan pasukan NICA. Untuk melanjutkan perjuangan di Medan, pada Agustus 1946 dibentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area.

3. Akhir Pertempuran

Pertempuran Medan Area mencapai puncaknya pada awal 1947. Setelah sekian lama bertempur, posisi pasukan Indonesia di Medan Area semakin terdesak. Pasukan NICA berhasil menguasai beberapa titik penting di Medan dan sekitarnya.

Pada bulan April 1947, pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Sutan Sjahrir akhirnya melakukan perundingan dengan pihak Belanda dalam upaya menghentikan konflik dan mencari penyelesaian diplomatik. Meski pertempuran besar di Medan berakhir, ketegangan antara kedua belah pihak tetap berlangsung hingga adanya kesepakatan formal dalam Perjanjian Renville pada Januari 1948.

PERTEMPURAN AMBARAWA

 PERTEMPURAN AMBARAWA

1. Latar Belakang

Pertempuran Ambarawa terjadi pada bulan Desember 1945, sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda yang dibantu oleh tentara Sekutu berusaha untuk kembali menguasai wilayah Indonesia. Pada bulan Oktober 1945, pasukan Sekutu mendarat di Semarang dan Ambarawa dengan dalih untuk membebaskan tawanan perang Belanda yang ditahan oleh Jepang. Namun, kehadiran Sekutu yang membawa pasukan Belanda membuat rakyat dan tentara Indonesia curiga. Pasukan sekutu yang diboncengi NICA mempersenjatai bekas tawanan tersebut. Ketegangan meningkat, terutama di Ambarawa, yang berujung pada pertempuran sengit antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pasukan Sekutu.

2. Jalannya Pertempuran

Pada tanggal 2 November 1945, presiden Soekarno bertemu dengan Brigjen Bethell dan menghasilkan sejumlah kesepakatan diantaranya:

  • Sekutu akan tetaap menempatkan pasukannya di Magelang dalam rangka menyelesaikan tugasnya mengurus tawanan, tetapi dengan jumlah terbatas.
  • Jalan raya antara Magelang-Semarang tetap terbuka bagi lalu lintas tentara sekutu dan masyarakat Indonesia.
  • Sekutu tidak akan mendukung aktivitas NICA dalam badan-badan yang berada dibawah kekuasaannya.

Pihak sekutu melanggar kesepakatan tersebut dengan menambah jumlah pasukannya di Magelang. Pertempuran di Ambarawa berlangsung dari tanggal 20 November hingga 15 Desember 1945. Setelah pertempuran kecil di Semarang, TKR dipimpin oleh Kolonel Soedirman mulai melakukan serangan terhadap pasukan Sekutu yang bermarkas di Ambarawa. Serangan dimulai pada 20 November 1945 ketika Sekutu melakukan pemboman di desa-desa sekitar Ambarawa. Sebagai respon, TKR dari Yogyakarta dan Solo bergabung dengan pejuang lokal untuk mengusir Sekutu dari Ambarawa.

Pertempuran semakin memanas pada 12 Desember 1945, di mana Kolonel Soedirman memimpin serangan besar dengan taktik “supit urang” atau pengepungan dari dua sisi. Dalam serangan ini, pasukan TKR berhasil mengepung dan mempersempit ruang gerak Sekutu di Ambarawa.

Kolonel Soedirman
Sumber: Wikipedia

3. Akhir Pertempuran

Setelah bertempur selama hampir sebulan, pasukan TKR berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dari Ambarawa pada 15 Desember 1945. Pertempuran ini dimenangkan oleh pasukan Indonesia, yang berhasil merebut kembali kendali atas Ambarawa dan sekitarnya. Sekutu mundur ke Semarang, meninggalkan Ambarawa yang telah menjadi saksi kemenangan strategis bagi Republik Indonesia.

4. Dampak Pertempuran

Pertempuran Ambarawa memiliki dampak besar bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kemenangan ini memberikan semangat juang yang tinggi bagi pejuang Indonesia dan memperkuat posisi diplomatik Indonesia di mata internasional. Selain itu, pertempuran ini menunjukkan kekuatan dan kemampuan militer Indonesia dalam melawan pasukan asing yang lebih terlatih dan bersenjata lengkap. Pada tanggal 15 Desember, hari kemenangan di Pertempuran Ambarawa diperingati sebagai Hari Infanteri oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

PERETEMPURAN 10 NOVEMBER SURABAYA

 PERETEMPURAN 10 NOVEMBER SURABAYA

1. Latar Belakang

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Latar belakang pertempuran ini terkait dengan:

  • Kedatangan Sekutu dan NICA: Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pasukan Sekutu datang ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. Namun, bersama Sekutu, pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) juga datang dengan tujuan mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.
  • Insiden Hotel Yamato: Pada 27 Oktober 1945, terjadi insiden di Hotel Yamato, di mana pemuda Surabaya menurunkan bendera Belanda yang dikibarkan oleh pihak NICA, dan menggantinya dengan bendera Merah Putih. Ini meningkatkan ketegangan antara rakyat Indonesia dan pasukan sekutu yang didukung NICA.
  • Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby: Pada 30 Oktober 1945, terjadi baku tembak di Surabaya yang menyebabkan tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, komandan pasukan Inggris di Surabaya. Kematian Mallaby memicu tindakan balasan dari Inggris yang menuntut penyerahan senjata oleh pihak Indonesia.

Brigjen A.W.S. Mallaby
Sumber: Kompas.com


2. Jalannya Pertempuran

Setelah kematian Mallaby pasukan sekutu menggempur rakyat Surabaya dan menuntut “menyerah tanpa syarat”. Pada 7 November 1945, Pemimpin sekutu yang menggantikan Mallaby, Mayor jenderal E.C. Mansergh menulis surat kepada Gubernur Soeryo yang berisi kecaman atas kematian Mallaby serta tudingan bahwa sang Gubernur tidak dapat mengendalikan rakyatnya sendiri. Gubernur Soeryo membalas surat tersebut yang berisi bantahan atas segala tuduhan sekutu. Mansergh kemudian membalas dengan ultimatum berisi perintah kepada seluruh pemimpin Indonesia, kepala pemuda, kepala polisi, kepala pemerintah agar melapor dan menandatangani dokumen berisi penyerahan diri tanpa syarat dan para pemuda harus menyerahkan senjata dan membawa bendera putih sebagai tanda menyerah paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00. Gubernur Soeryo melalui siaran radio menolak ultimatum tersebut dan terjadilah pertempuran yang tak bisa dielakkan.

Pada 10 November 1945, Inggris melancarkan serangan besar-besaran di Surabaya dengan menggunakan pasukan darat, laut, dan udara. Serangan ini dipimpin oleh Mayor Jenderal Mansergh. Inggris menduduki posisi strategis, dan menggunakan artileri serta tank untuk menyerang pertahanan rakyat Surabaya. Meskipun kekuatan militer Inggris jauh lebih unggul, rakyat Surabaya, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Bung Tomo, melakukan perlawanan sengit. Dengan senjata yang terbatas, mereka berusaha mempertahankan kota dari serangan pasukan Inggris. Pertempuran berlangsung di berbagai sudut kota, dan korban jiwa berjatuhan di kedua belah pihak. Pertempuran ini juga tak lepas dari peran kaum ulama seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, serta kiai-kiai pesantren lainnya yang mengerahkan santri-santri mereka untuk melakukan perlawanan.

Bung Tomo

Sumber: Wikipedia

3. Akhir Pertempuran

Setelah sekitar tiga minggu bertempur, perlawanan rakyat Surabaya mulai melemah karena keterbatasan logistik dan persenjataan. Meskipun demikian, semangat juang yang tinggi membuat pasukan Inggris kesulitan untuk menundukkan kota Surabaya dengan cepat. Pada akhirnya, Inggris berhasil menguasai Surabaya. Ribuan pejuang Indonesia gugur dalam pertempuran ini, dan kota mengalami kehancuran yang signifikan. Untuk mengenang perjuangan rakyat Surabaya, dikota ini dibangun tugu pahlawan dan setiap tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan.